Kembali ke Jalan Da’wah

oleh: Adriano Rusfi, Psi

Apapun definisinya, tapi yang pasti, terorisme adalah ekspresi agresif dari keputusasaan yang buntu. Keputusasaan itu bisa saja lahir dari realita, ketika para pejuang harus mengakui dengan mata kepala sendiri bahwa musuh begitu sewenang-wenang, tapi juga begitu digdaya untuk dihadapi satu lawan satu. Bergerilya? Mungkin, tapi di mana? Bahkan tak sepetak hutanpun masih mereka kuasai untuk sekadar menyembunyikan kepala.

Dan inilah yang senyatanya terjadi di Tanah Suci kita, tanah air bagi umat Islam sedunia: Palesina. Di sana, sebuah bangsa mujahid berdiri telanjang di tengah padang gersang. Sedangkan musuh berdiri di setiap sudut dan di atas setiap atap, dengan bedil yang siap menyalak melumatkan jantung demi jantung setelak-telaknya. Negeri itu lebih mirip ladang pembantaian, dimana Yahudi adalah algojonya, Pentagon adalah bedilnya, sedangkan World Trade Center adalah penyedia amunisinya.

Sebenarnya bangsa mujahid itu bisa saja bersembunyi di rumah tetangganya yang juga saudaranya. Entah itu Mesir, Suriah, Yordania, atau Lebanon. Namun apa hendak dikata, rumah-rumah itupun telah dijual kepada Paman Sam
yang kaya-raya. Apa hendak dikata ketika tuan rumah ternyata hanya seorang penyewa. Sejarah ini berulang dengan cara yang lain: Bangsa Palestina dikejar Zionis persis selangkah di belakang, sedangkan di depan terbentang Laut Merah yang enggan tersibak memberi jalan. Lalu bukankah terorisme menjadi satu-satunya kemungkinan yang masuk akal ketika itu?
Dan realita seringkali tak bertepuk sebelah tangan, karena di tangan yang sebelah lagi telah tergenggam sejumput doktrin dan keyakinan bahwa terorisme ketika itu bukan lagi sebuah alternatif, bahkan imperatif: kemestian yang niscaya. Dan ketika dua belah tangan telah berjalin-berkelindan, bukankah ia dapat meracik apa saja? Termasuk meracik kalimat heroik yang satu ini :

Ini bukan terorisme atawa bunuh diri. Ini adalah jihad suci melawan suatu kaum yang Allah telah melaknat mereka sampai hari kiamat. Ya, bahkan sejak mereka masih dalam kandungan ibu mereka. Setiap mereka adalah tentara tanpa kecuali, dan setiap jengkal tanah mereka adalah medan Khaibar dua puluh empat jam sehari. Halte bus sekolah, atau supermarket adalah nama-nama medan pertempuran, dan setiap kita adalah bom-bom berjalan bagi mereka. Ya, bukankah mereka juga bersikap persis begitu terhadap kita?

Hampir-hampir itu adalah kebenaran belaka bagi kita yang rusuh hati karena telah terlalu lama ditindas, seandainya saja tak ada dakwah di tengah-tengah kita. Pasalnya adalah, bahwa putus asa bukanlah khazanah kita, orang-orang beriman. Putus asa tidak pernah menjadi sah untuk menjadi energi penggerak lewat dalil apapun. Putus asa hanya akan ada jika Tuhan telah mati, atau ketika Allah menagih hasil untuk setiap usaha kita. Ya, semustahil itulah peluang kita dapat bersahabat dengan keputusasaan. Dan putus asa tetap selamanya akan bernama putus asa, walaupun sesekali ia mencoba menipu kita atas nama jihad atau syahid. Lagi pula, keputusasaan memang telah lama meringkuk di bilik kekufuran ketika kita telah dihadiahi Ar Rahman dengan kekuatan ajaib bernama dakwah.

Benar, kita tak dibekali-Nya dengan tongkat Musa a.s. yang mampu menyibak Laut Merah, atau kapak Ibrahim a.s. yang mampu melumatkan berhala membatu. Kita “hanya” dibekalinya Al Qur’an yang dengan itu kita berdakwah. Namun, dakwah mampu membuat musuh yang mengejar kita berbalik arah atau membuat Laut Merah mengijinkan kita berjalan di atasnya. Bukankah Thariq bin Ziyad mampu mendakwahi seekor singa Afrika sehingga urung menelannya bulat-bulat. Sungguh, dakwah adalah sebuah keajaiban nyaris tanpa batas, karena dakwah adalah seni menciptakan dan memanfaatkan kemungkinan. Sehingga dakwah membuat segalanya menjadi mungkin. Dan satu-satunya hal yang mustahil pada dakwah adalah kata “tak mungkin”. Tak pelak lagi, dakwah adalah perhiasan yang menjuntai di dada kaum optimis. Tentunya mereka adalah manusia seperti yang lain dengan segala keterbatasannya, namun mereka memiliki Allah yang mampu menerbitkan matahari dari barat.

Maka, marilah kita bertanya sejujurnya pada hati yang paling dalam: Masihkah kita benar-benar mempercayai dakwah? Atau, kita sebenarnya terpaksa mempercayai dakwah, karena pedang kita belum cukup tajam untuk menebas seangkan tentara kita belum cukup banyak untuk bertarung melawan musuh? Seorang guru nun di Nusantara sana, secara jelas pernah memposisikan dakwah seperti itu “Saudaraku…Negeri ini sangat luas, penduduknya sangat banyak, sedangkan keimanan mereka begitu buruk. Jika kita hanya mengandalkan dakwah saja, butuh waktu terlalu lama untuk tegaknya syari’ah.” Tidakkah titah ini cukup jelas menyiratkan bahwa dakwah adalah sekadar senjata bagi Mukmin lemah yang tak berdaya? Tidakkah titah itu cukup jelas menyiratkan bahwa dakwah hanyalah mainan perintang waktu, menunggu genderang perang kelak ditabuhkan? Semoga waktu yang membuktikan bahwa kekhawatiran itu tak cukup beralasan.

Yang patut kita cemaskan adalah jika kita akhirnya mengidap sindrom Ken Arok. Rindunya akan paras cantik Ken Dedes yang masih dipersunting Tunggul Ametung menyebabkannya tak sabar menanti keris pesanan yang masih saja ditempa oleh Mpu Gandring. Kitakah Ken Arok itu, yang memilih untuk tidak sabar merebut keris setengah matang dari tangan Mpu Gandring untuk membunuh Tunggul Ametung?Awas, keris itu akan memakan nyawa anak keturunan kita sendiri! Ya, tujuh nyawa!

Penggal sejarah di lembah Mesopotamia pernah bercerita dalam bahasa yang paling gilang gemilang betapa dakwah telah mengalahkan senjata. Ketika serbuan dahsyat dari pasukan adidaya Mongol pimpinan Hulagu Khan tak lagi dapat dibendung oleh balatentara Khilafah Baghdad yang mabuk dunia dan kemegahan. Ketika penjajahan yang membunuh ribuan ulama dan membakar jutaan buku gagal diusir lewat bedil, ketika itu para juru dakwah tampil mengambil alih pimpinan. Penjajah memang tak dapat diusir, dan mereka memang tak perlu diusir, karena mereka akhirnya masuk Islam. Memang, tak mudah menjadi juru dakwah ala Baghdad. Ia hanya akan mampu diusung oleh para seniman yang percaya penuh akan kuasa AllahAzza wa Jalla. Karena dakwah adalah seni: seni merubah lawan menjadi kawan. Bukan upaya menghancurkan lawan, karena yang terakhir hanyalah urusan para kopral yang menebas atas titah dari langit:

آُﻔﱡﻮاْ أَﻳْﺪِﻳَﻜُﻢْ وَأَﻗِﻴﻤُﻮاْ اﻟﺼﱠﻼَةَ وَﺁﺗُﻮاْ اﻟﺰﱠآَﺎةَ

“Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat…” (Q.S. An Nisaa: 77 )

Demikianlah titah Allah SWT. Bahkan ketika kekasih-Nya dicaci, diboikot, dilempari, kehilangan istri dan paman, Ia hanya berkata mi’rajlah! Semangat dakwahlah yang merasuki relung hati terdalam para sahabat, radhiyaLlahu ‘anhum. Ketika baju perang disandangkan dan dua pasukan telah saling berhadapan, naluri dakwah mereka membuat mereka masih saja menawarkan tiga opsi: masuk Islam, bayar jizyah atau diperangi. Hari ini, lewat ketulusan hati terdalam, saya ingin berbisik kepada rumput, “Kembalilah ke jalan dakwah, lalu percayailah bulat-bulat. Cukuplah Allah yang memutuskan kelak, kapan kita harus angkat senjata”

L A N D A S A N
Landasan iman ialah jiwa yang suci
Landasan keikhlasan ialah hati yang jernih
Landasan tekad ialah semangat yang kuat dan membara
Landasan usaha ialah kemauan yang keras
Landasan pengorbanan ialah akidah yang kokoh

A. Aziz Salim Basyarahil (1998)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s