Palestina Takluk Setelah Tumbangnya Turki Utsmaniyah

Sejak tumbangnya Turki Utsmani tahun 1924 di tangan Zionis Mustafa Kemal Attaturk, Zionis merasa puas dan bangga karena telah berhasil menumbangkan Khilafah Islamiyah dari dunia Islam.

Runtuhnya kekhalifahan Islam di Turki merupakan bencana terbesar bagi dunia Islam. Karena membuat kaum Muslimin tidak lagi hidup dalam sentral kepemimpinan dan hidup dalam perpecahan. Sebagai konsekuensinya tanggal 14 Maret 1948 Zionis mengikrarkan berdirinya negara Israel Raya untuk menguasai dunia.

Harapan Sultan Hamid untuk mempertahankan al-Quds dan Masjid al-Aqsha pupus bersamaan runtuhnya Turki Utsmaniyah tahun 1924. Rupanya benar apa yang dikatakan Theodore Hertzl saat Konferensi Zionis International I di Basel tahun 1897. Hertzl mengatakan pembebasan Palestina oleh bangsa Yahudi sangat tergantung dengan hancurnya Khilafah Utsmaniyah. Dengan runtuhnya Turki Utsmaniyah tidak ada lagi kekuatan yang dapat mempersatukan dan melindungi umat Islam secara menyeluruh.
Apalagi sejak Israel menang Perang melawan Arab Saudi selama enam hari tahun 1967. Aksi Zionis semakin liar dan menjadi-jadi dengan terus menjajah dan menawan rakyat Jerussalem Timur. Masjid al-Aqsha dan Baitul Maqdis yang merupakan kiblat pertama umat Islam terus dikuasai oleh Yahudi secara politik dan perundangan. Sehingga umat Islam di Palestina dan dunia Islam tidak dapat mengunjunginya secara bebas.
Mereka harus mendapat izin dahulu melalui chek poin melewati pos-pos penjagaan super ketat serdadu Israel. Bahkan saat ini yang boleh shalat di Masjid al-Aqsha hanyalah yang berusia di atas 40 tahun.
setelah dijajah Zionis Masjid al-Aqsha terus mengalami berbagai peristiwa yang mewarnai kedukaan umat Islam. Pada 21 Agustus 1969, al-Aqsha telah diserang dan dibakar oleh zionis Israel. Termasuk bagian Masjid al-Haram al-Sharif bahkan mimbar Masjid bersejarah berusia 1000 tahun yang didatangkan dari Aleppo pada zaman Salahudin al-Ayyubi pun ikut hangus terbakar. Konspirasi ini dilakukan oleh Michael dan Penganut Kristian Evangelical serta sekutunya.
Presiden Sekretariat Himpunan Ulama Asia Tenggara Abdul Ghani Samsudin mengungkapkan Nuwaf al-Zorou dalam karyanya berjudul “Empat Teori Meruntuhkan al-Aqsho” disebutkan sepuluh peringkat atau tahapan Zionis Israel untuk meruntuhkan Masjid al-Aqsho. Pertama dimulai tahun 1967 hingga tahun 1968 dengan menggali terowongan sedalam 70 meter di bawah dinding selatan Masjid al-Aqsha dan di belakang menara adzan Masjid.
Zionis terus melakukan penggalian itu hingga tahapan ke sepuluh yaitu peresmian pembukaan terowongan ‘Hasymunaiem’ sepanjang 250 meter pada Hari Perayaan Ghufran Yahudi, Senin 24 September 1996. Peristiwa ini memicu pertempuran besar antara mujahid Palestina melawan Zionis, darah para syuhada pun berguguran membasahi bumi Palestina. Meski demikian Zionis laknatullah tetap meneruskan penggalian terowongan itu hingga 400 meter.
Penggalian itu hingga kini masih berlanjut dengan dalih mencari peninggalan Ibrani untuk mengungkap peninggalan Haikal Sulaeman. Dalam hal pendanaan mereka membuat “Kotak pembangunan kembali Haikal Sulaiman,” sehingga berhasil mengumpulkan dana yang sangat besar dari kalangan Yahudi dan sekutunya di dunia.
Pertempuran demi pertempuran terus terjadi antara pejuang Palestina dengan tentara zionis. Pertempuran Intifadhah kembali terjadi ketika Perdana Menteri Israel Ariel Sharon mengunjungi Palestina pada 28 September 2000. Kunjungan pimpinan Partai Likud itu dikawal dengan 600 tentara bersenjata lengkap dan 3000 pasukan yang berjaga-jaga di sekitar Jerusalem. Aksi show of force formal ini menegaskan kesepakatan secara implisit dukungan Sharon terhadap aksi brutal dan arogansi yang terjadi di bumi Palestina.
Pernyataannya yang tak berperikemanusian itu mengundang semangat jihad mujahid Palestina sehingga meletuslah pertempuan sengit Intifadhah yang merenggut lima orang syahid dan ratusan lainnya luka-luka.
Tahun demi tahun berjalan, namun ambisi zionis untuk menguasai Palestina tak pernah memudar. Mereka terus mengusir waga Palestina dari tanah kelahiran mereka. Berdasarkan data dari PBB tahun 2006 bangsa Palestina telah menjadi bangsa terusir dengan jumlah besar dalam sejarah modern dan tersebar di 58 kamp Yordania, Suriah, Libanon, Tepi Barat dan Gaza yang jumlahnya mencapai 4.448.429 orang. Sedangkan jumlah warga Palestina yang tewas dibantai Israel sejak meletusnya Intifadhoh tahun 2000 hingga 31 Maret 2008 mencapai 4.608 orang.
Siapakah dalang dibalik Israel? ternyata negara adidaya Amerika dan sekutunya turut berperan dan menjadi sponsor utama. Pada tahun 2004 Amerika telah menyalurkan 2,3 miliar dolar untuk bantuan militer dan 500 juta dolar bantuan ekonomi. Bantuan AS tersebut tentunya memiliki misi terselubung yakni kepentingan politik di Timur Tengah. Sebab hanya Israel yang bisa membantu AS dalam mencapai agenda busuknya.
Pembantaian, penyiksaan dan pelanggaran HAM kerap dilakukan tentara Israel tehadap warga Palestina PBB dan OKI sebagai organisasi perdamaian dunia hanya bisa diam seribu bahasa tak berkutik. Bulan Juni 2002 Israel membangun tembok Apartheid sepanjang 721 KM, dengan tinggi 25 kaki atau hampir 8 meter. Dalam jarak tertentu, dibangun sebuah tower, tempat tentara-tentara Israel biadab berjaga dan mengintai. Sepanjang tembok dipasangi alat pendeteksi panas tubuh manusia, kamera pengintai infamerah, dialiri listrik dan sniper yang siap tembak.
Tembok biadab ini memisahkan ayah dengan anaknya, istri dengan suami dan keluarga Palestina. Sebanyak 60.500 kaum muslimin Palestina terpisah karena pembangunan tembok ini. Tembok ini membentang dan membelah 42 kota dan perkampungan yang dilaluinya. Sebanyak 12 kampung dengan 31.400 orang penduduknya terkepung tak bisa ke mana-mana atau diakses oleh siapapun. Makanan tak ada. Obat-obatan pun langka. Selimut untuk menghalau dingin yang menggigit, benar-benar seadanya.
Berbagai upaya telah dilakukan kaum muslimin di dunia untuk membebaskan Masjid al-Aqsha dari cengkaraman zionis namun belum membuahkan hasil yang nyata. Diantara penyebabnya adalah rasa kebangsaan yang tinggi dan kepentingan politik yang masih mewarnai negeri-negeri Islam. Terakhir diselenggarakan Deklarasi Istanbul di Irak pada November 2007 yang menghasilkan kesepakatan untuk membebaskan Masjid al-Aqsha dari penjajah Zionis, namun hingga kini belum ada hasil yang konkrit.
Seandainya negara-negara Islam di sekitar Palestina mau membantu dan membuka akses bagi para mujahidin masuk ke wilayah Palestina pasti Zionis Israel dapat ditendang ke luar bumi palestina.
Berkaitan dengan itulah DR Usamah Jam’ah al-Asyqar, General Manajer Palestines Establishment of Culture Suriah menjelaskan kondisi Palestina saat ini masih dalam gengaman zionis yang membuat umat Islam di belahan dunia resah. Ia berharap masing-masing umat Islam berusaha membantu dengan berbagai cara baik dengan senjata, fisik, material, dana maupun pemikiran. Hal senada juga diungkapkan Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya, yang menghimbau agar para pejuang Palestina bersatu padu demi mempertahankan dan membebaskan al-Aqsa dari cengkraman zionis Israel. (Andy/Berbagai Sumber)

Published by: Rana Setiawan

Rana Setiawan (Abu Aqsyira) merupakan Koordinator Liputan dan Redaktur Bahasa Indonesia di Kantor Berita Mi'raj Islamic News Agency (MINA). Juga sebagai aktifis pembebasan Al-Aqsha dan Palestina, aktif di kegiatan-kegiatan amal untuk perjuangan Islam dan Muslimin.

Categories Cinta Al-Aqsha1 Komentar

One thought on “Palestina Takluk Setelah Tumbangnya Turki Utsmaniyah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s