Dengan Atau Tanpa Kekuasaan, Jama’ah -Imaamah Wajib Ditegakkan

Konsep Islam Kaffah
 Pokok-pokok pikiran yang penulis coba uraikan di dalam tulisan ini, bukan untuk memisahkan urusan duniawi dari ukhrowi. Tapi sebagai upaya untuk membersihkan Islam Kaffah dari unsur-unsur yang berasal dari luar Qur'an-Sunnah.
 Dalam pembahasan Islam Kaffah, sebagian muslimin memahami bahwa Islam itu meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk aspek politik di dalamnya. Pemahaman lain, meyakini bahwa Islam Kaffah mengatur seluruh aspek kehidupan tanpa dicampur dengan aneka produk ro'yu (pe-mikiran) manusia, seperti politik.

Siyasah dan Fiqh Siyasi
 Masalah yang dianggap sebagai bagian dari awal praktek politik umat Islam, berpangkal dari masalah penentuan peng-ganti Rasulullah Shallallahu 'alahi wa sallam sebagai pemimpin umat. Kemudian pada perkembangan berikutnya, motivasi dan aktivitas politik makin jelas terlihat dalam beberapa gerakan. Sebagai contoh, misalnya gerakan makar terhadap khalifah Utsman bin 'Affan, dan pemberontakan terhadap Imam 'Ali bin Abi Thalib.
 Berlakulah sistem kerajaan di tengah-tengah kaum muslimin, menggantikan sistem khilafah, sejak Dinasti Umayyah berkuasa hingga runtuhnya Kesultanan Turki Utsmani. Di awal masa sistem kerajaan inilah karya-karya ilmiah tentang politik mulai berkembang.
 Kata "siyasah" sebagai padanan kata "politik", mulai dipakai ketika "Darul Hikmah" menggalakkan kegiatan penterjemahan karya-karya ilmiah dari Yunani. Darul Hikmah merupakan Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia yang didirikan oleh Ma'mun bin Harun al-Rasyid (penguasa Dinasti Abbasiyah tahun 813-832 H). Istilah "siyasah" dijadikan judul karya terjemahan dari "Politea"-nya Plato, yang diterjemahkan oleh Hunayn ibn Ishaq, salah satu tokoh Darul Hikmah.
 Selanjutnya, kajian ini menjadi sebuah ilmu yang secara khusus menganalisa tata cara pengaturan lembaga kekuasaan, negara, atau kerajaan. Dalam dunia Fiqh, kita kenal adanya kajian Fiqh Siyasi, yaitu ilmu tentang pengaturan kepentingan umat dan negara pada khususnya. Fiqh Siyasi merupakan bagian dari Siyasah Syar'iyyah (politik hukum Islam) atau lebih populer dengan istilah ilmu tata negara.

Agama dan Negara
 Dalam sejarah pemikiran politik Islam, umat Islam berusaha menemukan pola hubungan antara agama dan politik, yang pada perkembangannya, antara aga-ma dan negara. Karena kekuasaan dan lembaga negara, merupakan isu sentral dari teori politik. Tentang pola hubungan antara agama dan negara ini, sedikitnya ada tiga kerangka berpikir, yaitu:

Pertama, hubungan integralistik. Agama dan negara merupakan kesatuan, keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena itu, negara merupakan lembaga politik dan keagamaan sekaligus. Konsep ini dianut oleh kelompok Syi'ah, serta beberapa harokah Islamiyah (gerakan Islam) yang sering divonis sebagai 'fundamentalis', seperti: Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Jami'at Islami di Pakistan. 

Kedua, hubungan simbiotik. Agama dan negara, satu sama lain saling memerlukan serta saling menguntungkan. Dengan negara, agama akan berkembang dan terlindungi. Dan dengan agama, negara mendapat bimbingan etika serta nilai-nilai akhlaq yang mulia. Dalam hal ini, Al-Mawardi mencoba mengkompromikan realitas politik dengan idealitas etika politik berdasarkan nilai-nilai Islam. Ia juga kemudian menjadikan agama sebagai alat justifikasi (pembenaran) kecenderungan sistem politik saat itu.

Ketiga, hubungan sekularistik. Paradigma ini menolak hubungan integralistik maupun hubungan simbiotik antara agama dan negara. Konsep ini sama sekali memisahkan agama dari negara. Tokohnya antara lain: 'Ali 'Abdur Raziq.
 'Ali 'Abdur Raziq menegaskan,
 "Islam telah memberi kita kebebasan untuk mengorganisir negara sesuai dengan kondisi-kondisi intelektual, sosial dan ekonomi yang kita miliki, dan dengan mempertimbangkan perkembangan sosial dan tuntutan zaman."
 Menurutnya, Islam tidak memiliki kaitan apapun dengan sistem kekhalifahan. Kekhalifahan, termasuk Khulafaur Rasyidin, bukanlah sebuah sistem politik keagamaan, tapi sebuah sistem yang bersifat duniawi. Memang Islam memandang penting kekuasaan politik, namun bukan karena tuntutan agama, melainkan tuntutan situasi sosial dan politik itu sendiri.

Etika Politik
 Di samping tiga paradigma di atas, ada pula yang berpandangan bahwa Islam tidak memerintahkan untuk mendirikan negara dan tidak memiliki konsep tentang sistem politik atau teori ketatanegaraan. Namun, ajaran Islam itu sarat dengan norma dan etika untuk membimbing aktivitas politik serta mengendalikan aturan main hukum ketatanegaraan. Muhammad Husain Haikal di Mesir, dan Nurcholis Madjid dapat mewakili kelompok ini.
 Menurut mereka, di dalam al-Qur'an tidak ditemukan perintah mendirikan negara. Di sana hanya ditemukan beberapa prinsip umum sebagai etika bernegara. 

Menata Ummat di dalam Al-Jama'ah.
 Pemahaman Islam non politik, yang dimaksud penulis adalah bahwa tanpa ditambah politik, Islam itu sudah lengkap. Menata masyarakat muslimin bukan dengan sistem, pemerintahan atau lembaga politik. Tetapi dengan sistem yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala tetapkan, yaitu sistem Jama'ah-Imamah atau Khilafah.
 Manakala politik turut dipakai untuk mengatur masyarakat muslimin, berarti kita telah melakukan talbisul haq bil bathil, yaitu mencampur aduk wahyu Allah yang bersifat absolut/mutlak dengan hasil olah fikir manusia yang relatif. Motivasi, tar-get, sasaran, serta cara-cara dan aturan main politik terfokus pada upaya untuk memperoleh kekuasaan. Padahal Allah dan Rasul-Nya mengharamkan adanya ambisi terhadap kekuasaan/jabatan.
 Tanpa perlu dicari atau direbut dari pihak lain, kekuasaan sudah Allah Subha-nahu wa Ta'ala janjikan pada mereka yang beriman dan beramal shalih, sebagaimana firman-Nya dalam QS. an-Nur: 55:
 "Dan Allah telah berjanji pada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shaleh, bahwa sungguh Dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…"
 Muslimin wajib senantiasa berada di dalam satu kesatuan Jama'ah-Imamah, sebelum maupun setelah memiliki kekuasaan. Dengan atau tanpa kekuasaan, Jama'ah dan Imamah harus tetap ditegakkan. Karena menurut beberapa hadits Nabi, bila seorang muslim meninggal dan ia berada di luar sistem al-Jama'ah dan atau tidak terikat bai'at dengan Imamnya, maka kema-tiannya itu laksana kematian jahiliyah.
 Rasulullah Shallallahu 'alahi wa sallam mengamalkan Jama'ah Imamah, sejak diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul. Sejak periode Makkah, muslimin tetap berada dalam satu Jama'ah dan Imamah; padahal selama tiga belas tahun itu, wilayah Mak-kah dikuasai oleh musyrikin Quraisy. Jadi bersatunya muslimin di dalam satu wadah perjuangan dan satu sentral kepemimpinan tidak disyaratkan harus memiliki kekuasaan terlebih dahulu.
 Bersatunya muslimin di dalam satu Jama'ah-Imamah atau Khilafah, adalah dalam rangka ibadah kepada Allah secara tertib dan terpimpin. Ibadah itu berbeda sama sekali dengan aktivitas politik. Jama'ah-Imamah atau Khilafah adalah tempat berhimpunnya seluruh muslimin di mana saja berada, tanpa dibatasi oleh sekat-sekat teritorial, budaya, etnis dan kebangsaan. Sedang lembaga politik berupa negara atau kerajaan itu sangat terikat dengan batas-batas tersebut.
 Di dalam sistem Ummah Wahidah, muslimin saling berkasih sayang karena berharap ridla Allah semata-mata. Sedang di dunia politik, tiada kawan yang abadi dan tak ada lawan yang abadi. Yang ada hanyalah kepentingan pribadi dan kelompoknya semata.
 q Irawan SSS

KHILAFAH, Bukan Sistem Politik 

Sepanjang perjalanan sejarah, mus-limin senantiasa dihadapkan pada berbagai permasalahan intern dan ekstern. Banyak sekali masalah yang be-lum terpecahkan hingga kini.
 Terjadinya masalah-masalah itu dise-babkan oleh keragaman interpretasi terhadap ayat-ayat al-Qur'an dan al-Hadits, sedangkan keragaman interpretasi itu terjadi karena sudut pandang yang berbeda dan tidak adanya sentral ijtihad yang secara formal melembaga atau dilembagakan.
 Tujuan syari'at Islam tentang persatuan umat dan kesatuan pimpinan, seakan-akan mustahil untuk dapat diwujudkan. Akibat dari keadaan tersebut kondisi muslimin sampai saat ini masih terkotak-kotak dalam berbagai aliran pemahaman serta batas-batas geografis dan teritorial. Oleh karena berbeda kepentingan, seringkali terjadi peperangan antar negara, padahal sama-sama negara muslim.
 Di dalam negeri masing-masing, muslimin terpecah lagi dalam berbagai kepentingan ormas, yayasan atau partai politik yang saling berbeda. Muslimin sulit sekali menjadi satu kekuatan yang patut diperhitungkan. Mereka masih selalu disibukkan oleh perbedaan wadah dan pola perjuangan. Potensi muslimin senantiasa tersebar dan berserakan, sehingga sulit untuk dibina dan didayagunakan untuk kejayaan agama Islam. Kondisi ini melahirkan multi krisis di seluruh aspek kehidupan. Krisis 'aqidah, akhlaq, krisis ukhuwah dan krisis kepemimpinan.
 Terlepas dari kondisi yang ada, reaksi terhadap hapusnya kesultanan Turki tahun 1924, membuktikan bahwa kesatuan muslimin dalam satu sistem khilafah/ imamah tetap diyakini umat Islam sebagai suatu kewajiban. Sementara itu, ekspansi kolonialisme bangsa Eropa ke dunia Islam semakin memperburuk kondisi muslimin.
 Penghapusan kesultanan Turki itu dilanjutkan dengan penanaman konsep nasionalisme di negara-negara jajahan, sehingga konsep kesatuan umat menjadi semakin terabaikan. Berbagai usaha yang telah dilakukan tokoh-tokoh umat Islam untuk menegakkan kembali Jama'ah Ima-mah (Khilafah), belum menampakkan hasil yang diharapkan.
 Dalam kondisi umat seperti itulah, sejak tanggal 10 Dzulhijjah 1372 H (20 Agustus 1953 M), Wali Al Fattaah bersama muslimin lainnya, mempelopori di amalkannya kembali Jama'ah Imamah/Khilafah ini. Dengan tujuan untuk memenuhi perintah Allah dan rasul-Nya, agar umat Islam berjama'ah dan menjauhi firqah-firqah. Wali Al Fattaah bersama muslimin lainnya berusaha mengikuti khiththah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bagi terwujudnya satu kesatuan muslimin yang diridlai Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Khilafah / Jama'ah Imamah
 Islam telah memberikan tuntunan bahwa menata masyarakat muslimin adalah di dalam sistem Jama'ah Imamah atau Khilafah. Bukan di dalam lembaga politik dan atau negara Islam.
 Namun, dalam perkembangan dunia Islam kontemporer, muslimin berusaha menarik manfaat dari konsep politik, dan kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam, namun tetap saja para cendekiawan muslim itu tak dapat melepaskan diri dari kerangka dasar konsep politik yang ada dan telah berkembang di Barat.
 Dengan konsep politik Islam, musli-min berusaha untuk menegakkan daulah Islam (negara Islam), agar hukum Syari'at Islam bisa diberlakukan. Padahal sistem perjuangan yang sesuai dengan khiththah perjuangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Jama'ah Imamah/Khilafah.
 Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh muslimin di dunia untuk menegakkan Syari'at Islam dan memikul dakwah Islam ke seluruh dunia. Ditinjau dari konsep makna, Khilafah dan Imamah punya arti yang sama.
 Khilafah atau Imamah ini memimpin seluruh muslimin di dalam satu sistem manajemen. Wadah kesatuan manajemen itu dinamakan Al-Jama'ah atau Jama'ah Muslimin. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Wajib atas kalian berjama'ah dan jauhilah perpecahan". (HR. At-Tirmidzi dalam Jami'us Sahih Kitabul Fitan, juz 4 hal 465-466) "Tetaplah engkau di dalam Jama'ah Musli-min dan Imam mereka." (Shahih Bukhari, IV/225 dan Shahih Muslim II/134-135)

Khilafah: Kepemimpinan Universal
 Dalam al-Qur'an surat al-Anbiya ayat 107, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam".
 Prinsip rahmatan lil 'alamin sebagaimana terkandung dalam ayat tersebut di atas, melahirkan konsep kepemimpinan universal. Kepemimpinan yang tidak mengenal batas dan ikatan geografis, bahasa maupun kebangsaan.
 Kepemimpinan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah kepemimpinan universal, kepemimpinan untuk seluruh umat Islam di mana saja berada. Demikian pula Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyyin sebagai pelanjut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam memimpin muslimin, adalah bagi segenap alam.
 Di belahan dunia manapun muslimin tinggal, kepemimpinannya satu, yaitu seorang Imam atau khalifah. Dengan demikian kaum muslimin akan tertib dalam satu sentral komando, dan mereka bersatu dalam satu Jama'ah.
 q iis.

TIDAK ADA KEWAJIBAN UNTUK MENEGAKKAN KEKUASAAN 

Drs. Abu Salman Al Harits 

Ketika Bangsa Indonesia baru merdeka, terjadi tarik ulur landasan ideologi yang akan menjadi dasar negara. Tokoh-tokoh Islam menghendaki Syari'at Islam sedangkan para nasionalis menginginkan Nasionalisme sebagai dasar negara.
 Ahmad Hassan, tokoh reformis Persatuan Islam (PERSIS), cukup keras menentang pandangan Soekarno tentang faham Nasionalisme. Ia berpendapat, "Nasionalisme adalah sesuatu yang berwatak chouvinistik. ('ashobiyah), dan dilarang oleh Islam. Karena praktek itu akan menjadi pemisah antar umat Islam. Yakni antara umat Islam Indonesia dan umat Islam di belahan dunia lain.
 Perbedaan pandangan tentang Islam dan negara (Islam dan Nasionalisme) di antara tokoh-tokoh Islam lebih disebabkan karena kerancuan cara berfikir muslimin dalam memahami apa itu Islam dan apa itu negara.
 Islam adalah wahyu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bukan karya otak manusia yang nisbi. Islam merupakan tata aturan yang lengkap dan sempurna. Manusia diwajibkan untuk mengamalkannya sebagai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
 Dalam kajian ilmu politik kekusaan didefinisikan sebagai penggunaan sejumlah sumber daya (aset, kemampuan) untuk memperoleh kepatuhan (tingkah laku menyesuaikan) dari orang lain.
 Politik yang menjadi alat meraih kekuasaan bukanlah karya Tuhan (wahyu), melainkan seperangkat sistem hasil karya otak manusia yang mudah usang dan selalu berubah-rubah sesuai dengan situasi yang berkembang. Lebih dari itu, politik tidak pernah menjanjikan bagi pelakunya dapat mencapai derajat kemuliaan dan kesuksesan. Sebaliknya justru menimbulkan persoalan dan menyengsarakan bagi umat manusia. Misalnya, penindasan, peperangan, pemerkosaan dan perampasan hak-hak asasi manusia.
 Dalam pandangan Islam kekuasaan itu adalah mutlak milik Allah Subhanahu wa Ta'ala dan atas kasih sayang-Nya ia memberikan sebagian kecil kedudukan pada manusia yang dikehendaki-Nya (QS. Ali Imran: 26). Jabatan penguasa yang diperoleh manusia, di satu pihak diartikan sebagai anugerah. Sedang di pihak lain dipandang sebagai suatu yang bersifat sementara. Dan pada gilirannya akan dicabut kembali bila Allah menghendaki (QS. Al A'raf: 129). Ia juga sebagai amanah yang harus ditunaikan, bukan sesuatu yang harus diperebutkan, karena akan di-tuntut pertanggungjawaban di akhirat nanti. (QS. An-Nur: 55). Kekuasaan itu juga merupakan ujian untuk mengukur kadar iman dan taqwanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. (QS. Al-An'am : 165)
 Kekuasaan merupakan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagai penghargaan bagi hamba-Nya yang beriman. Oleh karena itu bagi seorang muslim, tidak ada kewajiban menegakkan kekuasaan, apalagi dengan cara kekerasan dan peperangan. Muslimin hanya diwajibkan patuh menjalankan syari'at Islam secara kaffah, baik yang berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala atau sesama manusia, dan juga yang berhubungan dengan segenap alam semesta. Sehingga diharapkan bisa tercipta dinamika hidup yang tertib, teratur dan harmonis dan terbentuklah citra hidup yang bernuansa rahmatan lil 'alamin.(QS. 3 Ali Imran :112)
 Akhirnya semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa memberi kepahaman kepada kita tentang Islam dan kekuasaan secara baik dan benar, sehingga kita dapat menunaikan amanat hidup ini selalu dalam ridha dan ampunan-Nya. 

SURGA-NERAKA DI DUNIA MAYA 

Abu Aunillah Ahmad 

Apabila dua orang manusia bercakap-cakap maka ada semacam ruang tiga dimensi di antara keduanya. Saat percakapan itu terjadi di telepon dan keduanya tak saling bertatap muka maka ruang yang tercipta tidak lagi tiga dimensi. Yang terjadi di internet adalah komunikasi antar banyak orang yang tersebar di berbagai tempat yang secara fisik tidak diketahui pasti lokasinya maka ruang itu pun semakin abstrak atau maya. Itulah sebabnya William Gibson, seorang penulis fiksi ilmiah, menyebut internet sebagai cyberspace atau dunia maya.
 Layaknya dunia nyata, dunia maya pun punya penghuni yaitu berbagai data dan informasi serta berbagai benda yang secara fisik tidak ada namun memiliki status dan identitas tertentu. Namun penghuni dunia maya terus bertambah setiap saat dan tidak mengenal batas. Internet pun juga tidak punya atau belum ada hukum. Etika yang dikenal di sini pun ethical zero alias tiada etika. Orang bebas memilih, di sini kebajikan dan kebatilan berjalan secara beriringan.
 Situs-situs keagamaan bertebaran berdampingan dengan situs-situs kemaksiatan (seperti pornografi). Pada situs-situs keagamaan kita bisa mendengarkan lantunan lagu-lagu rohani atau murottal al Qur'an yang menyejukkan hati. Namun pada mal-mal pornografi bisa diikuti pula berbagai suara para ahli maksiat. Situs-situs para penyembah Tuhan bersebelahan dengan situs pemuja setan. Terserah mau pilih surga atau neraka, semua ada. Untuk berpindah dari ibadah ke maksiat pun sangat mudah, cukup dengan sebuah sentuhan, klik.

Mau Dirangkul atau Dijauhi?
 Mengingat sifatnya yang tanpa batas etika itu, apakah yang akan kita lakukan? Merangkulnya atau menjauhinya? Sebagian negara-negara muslim ada yang melarang rakyatnya menyentuh internet. Inilah yang dilakukan Arab Saudi, Libya, Irak, Suriah dan Jordania. Alasannya agar rakyat terlindungi dari pornografi dan pengaruh-pengaruh berbahaya lainnya dari situs-situs pemuja setan.
 Sikap tersebut barangkali berlebihan karena dilandasi anggapan keliru tentang teknologi. Seyogyanya teknologi dipandang sebagai alat bukan musuh. Manfaat internet sebagai produk teknologi informasi yang berkembang sangat pesat itu sangat banyak. Sikap yang bijak adalah dengan memanfaatkan teknologi secara optimal namun tetap waspada dan hati-hati terhadap setiap kemungkinan infiltrasinya. Sangatlah nyata peperangan pemikiran yang digelar lewat internet yang akibatnya akan merusak tatanan budaya suatu komunitas manusia.

Manfaat: Komunikasi, Informasi dan Belanja
 Pada dasarnya seperti produk teknologi yang lain, internet sangat memudahkan hidup manusia. Bentuk kemudahan itu dapat dirasakan di antaranya dalam hal komunikasi, pertukaran informasi dan kegiatan belanja. Anda bisa berkomunikasi dengan sanak saudara yang tinggal di luar negeri dengan puas dan murah biayanya dengan menggunakan fasilitas surat elektronik atau electronic mail yang disingkat e-mail. Komunikasi internasional namun berbiaya lokal. Katakanlah bila untuk bicara langsung via telepon internasional biayanya Rp. 7.000,- per menit maka per jam diperlukan Rp. 420.000,- Sementara biaya sewa di warung internet (warnet) hanya ± Rp. 6.000,- per jam.
 Komunikasi itu pun bisa dilakukan secara simultan antara Anda dengan beberapa orang, di luar maupun di dalam negeri, pada saat yang sama atau berlainan. Misalnya, Anda ingin memberi kabar tentang kondisi kehidupan di tanah air kepada kerabat di empat negara. Bila surat Anda itu dibebani biaya ekspress internasional Rp. 30.000,- per tujuan maka untuk keempat tujuan itu diperlukan Rp. 120.000,- dan itupun baru tiba dalam sepekan ke depan. Dengan e-mail kabar itu dapat diterima saat Anda kirimkan dan biayanya sangat murah.
 Manfaat selanjutnya adalah ketika Anda memerlukan informasi tertentu, tentang bertanam jambu guava misalnya, biasanya perpustakaanlah atau toko buku tujuannya. Namun di internet Anda bisa mendapatkan berbagai informasi tersebut dengan sekedar mengetikkan kata guava maka mesin pencari (searching machine) akan bekerja untuk Anda. Dalam waktu yang sangat singkat tersedia puluhan bahkan ratusan atau ribuan tulisan tentang guava dalam berbagai bahasa yang di antaranya ada yang disertai ilustrasi gambar dan foto. Anda pun dapat mengirimkan informasi tersebut kepada kawan yang punya hobi yang sama.
 Di tengah hujan badai dan saat tak memegang uang sepeser pun Anda masih bisa berbelanja lewat internet. Bila Anda ingin mencari buku Mukaddimah karya legendaris Ibnu Khaldun dalam bahasa Inggris maka berbagai toko buku yang mengiklankan dirinya di internet segera akan melayani dengan memuaskan. Salah satu toko buku di dunia maya itu adalah www.amazon.com yang menawarkan lebih dari 2.5 juta judul buku dan juga CD, VCD, video dan mainan edukatif. Dari katalog yang tersedia Anda bisa menemukan buku itu maupun buku-buku lainnya. Semua belanjaan Anda pun didiskon sampai 40%. Ongkos kirim mau yang mahal atau yang murah tinggal pilih. Mau dibayar pakai kartu kredit atau cek. Kalau Anda ingin menghadiahkannya kepada seseorang, silahkan pilih juga kertas pembungkus kadonya serta ucapan manisnya maka buku itu akan dikirim langsung ke alamatnya. Luar biasanya bila Anda tak suka buku yang terlanjur dibeli, dalam lima belas hari dapat dikembalikan dan uang Anda pun kembali.

Dakwah & Jihad bil Internet
 Yang ikut diuntungkan dengan ada-nya internet adalah para praktisi dakwah Islam. Situs-situs Islam yang terus bertambah jumlahnya merupakan media efektif untuk berdakwah. Melalui internet pada alim ulama dan asatidz bisa menyampaikan pesan-pesan dakwah dan menyebarluaskan ilmunya kepada umat. Kalau sebuah ceramah tatap muka biasa dihadiri oleh seribu, dua ribu atau yang cukup besar lima ribu pendengar maka dengan internet isi ceramah itu bisa dinikmati oleh ratusan ribu bahkan jutaan pembaca. Saat ini pun dakwah dalam bentuk rekaman suara sudah dapat dinikmati via internet.
 Kemudahan mengakses suatu situs Islam di sembarang waktu membuat internet menjadi media pilihan favorite di masa mendatang. Ketika seseorang perlu mendapat siraman rohani tentang taubat maka dengan sangat mudah ia menemukannya di berbagai situs Islam. Bila ada seorang yang masih awam dan ingin belajar dari awal maka bimbingan Islam via internet dapat memuaskannya. Sejak pe-ristiwa hancurnya World Trade Center pada September 2001, situs-situs Islam diserbu para netters (julukan untuk para pengguna internet) yang penasaran mencari tahu apakah sedemikian bengisnya rupa Islam dan muslimin. Setelah mengikuti penjelasan di internet banyak juga yang terbuka hatinya dan masuk Islam. Hal itu menjadi bukti betapa internet bisa menjadi jendela untuk memahami Islam.
 Anda bisa memilih situs-situs Islam dalam berbagai bahasa. Untuk yang berbahasa asing ada www.islamonline.net. Di sana dapat diikuti berita lempang tentang perkembangan nasib muslimin di beberapa daerah konflik serta sajian artikel dan fatwa dari berbagai pakar Islam dalam dua bahasa, Inggris dan Arab. Salah satu situs Islam lokal www.MyQuran.com memiliki banyak jaringan dan sumber iformasi berbagai aspek kehidupan muslimin. Anda juga bisa menikmati fasilitas pencarian ayat-ayat al Quran dan Hadits di samping forum diskusi online, chatroom dan webmail. Juga ada link untuk men-dengarkan murottal al Quran dan suara adzan versi Makkah dan Madinah.
 Kalau ingin melacak status kehalalan suatu produk bisa lihat www.indohalal.com. Situs yang dibuka sejak Februari 2001 tersebut menyediakan jawaban terhadap 178 pertanyaan yang masuk tentang berbagai produk.
 Para santri jangan mau ketinggalan, kunjungilah situs www.PesantrenVisual.com . Di sini para santri dapat saling berkomunikasi dan bertukar informasi serta saling berdakwa di mailing list (disingkat milis): pesantren@yahoo.com.
 Para cyber-jurnalist muslim menjalani jihad mereka dengan cara membuka situs-situs yang berusaha menyajikan informasi aktual dan objektif tentang Islam dan muslimin sebagai upaya penyeimbangan pemberitaan oleh pihak-pihak yang ber-seberangan dengan Islam. Berita-berita yang dibuat oleh pihak Barat seringkali merugikan muslimin seperti terlihat pada kasus serangan teroris ke Amerika dan rencana perang terhadap Irak. Sebagai contoh situs www.eramuslim.com yang me-nyerap informasi terakhir tentang dunia Islam dari kantor-kantor berita berbahasa Arab. Seperti dituturkan oleh M. Lili Nur Aulia, redaktur pelaksana eramuslim.com, ada tiga faktor yang menjadi motivasi utama perjuangan mereka. Pertama, pan-dangan universalitas Islam dalam kehidupan. Kedua, pandangan untuk memanfaatkan teknologi atau internet sebagai sarana dakwah. Ketiga, sebagai pelaksanaan amar makruf nahi munkar. 

Kelebihan Internet sebagai Media Dakwah
 Dibandingkan media dakwah yang lain, Internet memiliki tiga keunggulan. Pertama karena sifatnya yang never turn-off (tidak pernah dimatikan) dan unlimited access (dapat diakses tanpa batas). Inter-net memberi keleluasaan kepada peng-gunanya untuk mengakses dalam kondisi dan situasi apapun.
 Kedua, Internet merupakan tempat yang tepat bagi mereka yang ingin berdiskusi tentang pengalaman spiritual yang mungkin tidak rasional dan bila dibawa pada forum yang biasa akan mengurangi keterbukaannya. Para saintis biasanya merasa terbatasi oleh koridor ilmiah untuk mengekspresikan suatu pikiran atau pengalaman. Internet menyediakan ruang yang mengakomodasi keinginan mereka untuk merasa bebas membicarakan sesuatu yang di luar kelaziman ilmiah.
 Ketiga, sebagian orang yang memi-liki keterbatasan dalam komunikasi sering kali mendapat kesulitan guna mengatasi dahaga spiritual mereka. Padahal mereka ingin sekali berdiskusi dan mendapat bimbingan dari para ulama. Sementara itu ada sebagian orang yang ingin bertanya atau siap berdebat dengan para ulama untuk mencari kebenaran namun kondisi sering tidak memungkinkan. Internet hadir sebagai kawan (atau lawan) diskusi sekaligus pembimbing setia. Para ulama seharusnya dapat menggunakan internet sebagai media efektif untuk mencapai tujuan dakwahnya. 
 Wallahu a'lam.

Published by: Rana Setiawan

Rana Setiawan (Abu Aqsyira) merupakan Koordinator Liputan dan Redaktur Bahasa Indonesia di Kantor Berita Mi'raj Islamic News Agency (MINA). Juga sebagai aktifis pembebasan Al-Aqsha dan Palestina, aktif di kegiatan-kegiatan amal untuk perjuangan Islam dan Muslimin.

Categories Risalah AlJamaahTinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s